ontologi

ONTOLOGI

Ontologi adalah cabang kajian filsafat yang merupakan teori hakikat. Kata ontologi berasal dari bahasa Yunani; on dan logos/logic. On berarti being, dan logos berarti ilmu. Jadi, ontologi adalah the theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan). Ontologi membahas tentang yang ada, mencari semua realitas dalam semua bentuknya. Menurut Jujun S. Suriasumantri, antologi membahas apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau dengan perkataan lain suatu pengkajian mengenai yang “ada”. Antologi disebut ilmu hakikat karena mempersoalkan sifat dan keadaan terakhir dari kenyataan.
Hakikat yang dikaji dalam ontologi yaitu:
1. Apakah sesungguhnya hakekat realita yang sebenarnya?
2. Apakah realita yang nampak ini suatu realita materi?
3. Atau ada sesuatu dibalik realita itu?
4. Apakah ada rahasia alam?
5. Apakah wujud semesta ini bersifat tetap?
6. Apakah hakekat semesta ini bersifat tetap?
7. Apakah realita ini berbentuk satu unsur atau banyak?

Menurut aristoteles, ontologi adalah ilmu yang menyelidiki hakikat sesuatu atau tentang sesuatu yang ada, keberadaannya, atau eksistensinya atau yang disebut dengan metafisika; berarti menyelidiki tentang makna yang ada (keberadaannya) manusia, benda, dan alam semesta. Istilah ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1936 M, untuk menamai hakekat yang ada bersifat metafisis. Christian Wolf kemudian membagi metafisika menjadi dua yaitu metafisika umum dan khusus.
Ada lima aliran dalam filsafat yang muncul dari beberapa pertanyaan dalam mempelajari ontologi. Pertanyaan tersebut berupa what is being?, how is being? serta where is being?.
1. Aliran monoisme
Aliran ini berpendapat bahwa yang ada itu hanya satu, tidak mungkin dua. Aliran ini terbagi menjadi dua aliran lagi yaitu materialisme dan idealisme. Aliran materialisme, sering juga disebut naturalisme, menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan ruhani. Menurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya yang fakta hanyalah materi, sedangkan jiwa atau ruh tidaklah merupakan suatu kenyataan yang berdiri sendiri.
Aliran yang kedua yaitu idealisme. Aliran ini disebut juga spiritualisme. Idealisme berasal dari kata “ideal” yang berarti sesuatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu semua berasal dari ruh (sukma), yaitu sesuatu yang tidak terbentuk dan menempati ruang. Materi atau zat ini hanyalah suatu jenis dari penjelmaan ruhani.
2. Dualisme
Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohani. Tokoh paham ini adalah Descartes (1596- 1650 SM) yang dianggap sebagai bapak Filosofi modern).
3. Pluralisme
Aliran ini berpendapat bahwa segala macam bentuk merupakan kenyataan. Plurarisme dalam Dictionary of Philosophy and Religion menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur. Unsur yang dimaksud adalah tanah, air, api dan udara.
4. Nihilisme
Aliran ini berpendapat bahwa tidak ada sesuatu pun yang eksis. Nihilisme berasal dari bahasa latin yang berarti nothing atau tidak ada. Pandangan Grogias (483- 360 SM) yang memberikan tiga proporsi realitas:
Pertama: tidak ada sesuatupun yang eksis. Realitas itu sebenarnya tidak ada.
Kedua: bila sesuatu itu ada, ia tidak dapat kita ketahui. Ini disebabkan oleh penginderaan itu tidak dapat dipercaya, penginderaan it sumber ilusi.
Ketiga: sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain.
5. Agnotitisme
Paham ini adalah paham yang mengingkari kemampuan manusia mengetahui hakikat benda baik materi maupun ruhani. Timbul pendapat ini dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan secara kongkret akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat dikenal.
Atmasary (2012) mengatakan bahwa manfaat mempelajari ontologi adalah membantu mengembangkan dan mengkritisi berbagai bangunan pemikiran yang ada, membantu memecahkan masalah pola relasi antar berbagai eksisten dan eksistensi. Selain itu membantu mengeksplorasi secara mendalam dan jauh pada berbagai ranah keilmuan atau masalah, baik itu sains hingga etika.
Setiap ilmu harus mempunyai objek sebenarnya (proper objek) yang berwujud objek material dan objek formal. Objek material adalah fenomena yang ditelaah oleh ilmu sedangkan objek formal adalah pusat perhatian dalam penelaahan terhadap fenomena. Ilmu bisa memiliki objek material yang sama tetapi objek formal yang berbeda. Contoh penerapan ontologi dalam bidang linguistik misalnya objek formal yaitu bahasa itu sendiri misalnya bahasa inggris, sedangkan objek material misalnya ketika mempelajari komponen-komponen bahasa inggris yaitu ketika morphology (mempelajari struktur kata), semantik (mempelajari makna), sintak (mempelajari struktur kalimat), phonologi (mempelajari struktur bunyi bahasa), serta pragmatik (mempelajari makna dalam konteks). Disini objek yang ditelaah sama yaitu bahasa inggris tetapi objek yang menjadi fokus/pusat perhatian berbeda. Selain itu penerapan ontologi dalam bidang linguistik misalnya ketika mempelajari sosiolinguistik dan psikolinguistik. Sosiolinguistik memfokuskan pada bidang sosial dan psikolinguistik memfokuskan pada psikologi dalam kaitan nya dengan bahasa.

Aspek ontologi ilmu pengetahuan tertentu hendaknya diuraikan/ditelaah secara:
a. Metodis; menggunakan cara ilmiah
b. Sistematis; saling berkaitan satu sama lain secara teratur dalam suatu kesatuan.
c. Koheren; unsur-unsurnya harus bertautan; tidak boleh mengandung unsur yang bertentangan.
d. Rasional; harus berdasar pada kaidah berfikir yang benar/logis.
e. Komprehensif; melihat objek tidak hanya dari satu sisi saja melainkan secara keseluruhan.
f. Radikal; diuraikan sampai akar persoalannya.
g. Universal; muatan kebenarannya sampai tingkat umum yang berlaku dimana saja.

References
Atmasari, Nita. 2012. Ontologi Dalam Filsafat Ilmu. Retrieved from http://blog.uin-malang.ac.id/nita/2011/01/25/ontologi-dalam-filsafat-ilmu/ on September 30th, 2012.
Suriasumantri, Jujun .S. 1985. Pengantar Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: Gramedia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s